11 April 2026 | Dilihat: 144 Kali

Langkah Catur Hadianto Rasyid: Mengubah Wajah Palu Menuju Kota Modern (Bagian 1)

Langkah Catur Hadianto Rasyid: Mengubah Wajah Palu Menuju Kota Modern (Bagian 1)

Athianews.id || Palu – Di papan besar bernama Kota Palu, Wali Kota Hadianto Rasyid memainkan strategi seperti seorang grandmaster catur. Ia tidak hanya piawai membaca posisi, tetapi juga berani mengambil langkah-langkah tidak populer demi keunggulan jangka panjang. Demikian pandangan penulis yang mengaku sebagai salah satu sahabat Hadianto Rasyid. Tulisan ini merupakan opini subjektif dan bukan mencerminkan sikap pribadi Hadianto maupun Pemerintah Kota Palu.

Menurut penulis, pada fase opening, Hadianto mendorong pion-pion pembangunan secara progresif dengan strategi jemput bola ke berbagai kementerian dan lembaga. Langkah ini ditujukan untuk mempercepat pemulihan pasca bencana Palu 2018. Penulis menilai ini bukan sekadar langkah awal, melainkan tempo gain untuk mempercepat ritme agar Palu tidak terjebak dalam permainan bertahan terlalu lama.

Middle Game: Orkestrasi Antar "Buah Catur"
Memasuki fase middle game, penulis melihat orkestrasi antar sektor mulai terlihat solid. Persoalan banjir temporal ditangani dengan pendekatan teknokratis melalui pembangunan drainase berbasis perencanaan matang. Penulis menyebut ini sebagai bentuk positional reinforcement, di mana struktur pertahanan kota diperkuat secara sistemik untuk mengantisipasi tekanan berulang.

Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis digerakkan seperti gajah dan kuda dalam catur yang saling melindungi, memastikan setiap celah kerentanan dapat diminimalisir secara terukur.

Kombinasi Ekonomi: Wisata Kuliner dan UMKM
Di sektor ekonomi, Hadianto memainkan combination play yang efektif. Ia membangun puluhan titik wisata kuliner sebagai pusat pertumbuhan baru, sekaligus menggelontorkan stimulasi permodalan UMKM hingga ratusan miliar rupiah.

Dalam logika catur, penulis menganalogikan ini sebagai aktivasi "ratu" yang membuka banyak jalur serangan sekaligus: menghidupkan ekonomi rakyat, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat daya tahan ekonomi lokal di tengah tekanan eksternal.

Bus TransPalu: Langkah Kontroversial yang Kini Terbukti
Langkah krusial lainnya hadir pada sektor mobilitas. Kehadiran Bus TransPalu yang diluncurkan September 2024 dinilai penulis sebagai strategic foresight yang pada awalnya dipenuhi protes dan cibiran.

Saat itu, keputusan "menggondong" 24 unit bus dinilai terlalu berani, bahkan oleh sebagian pemangku kepentingan dianggap tidak prioritas. Namun dalam perspektif catur, ini adalah quiet move—tidak langsung terlihat dampaknya, tetapi menentukan struktur permainan di fase berikutnya.

Kini, memasuki dinamika baru per 10 April 2026 dengan kebijakan kerja fleksibel (WFH/WHA) sebagai respons atas tekanan geopolitik global, langkah tersebut justru menjadi decisive advantage. Bus TransPalu berfungsi sebagai "pelampung" ekonomi—menekan beban pengeluaran bahan bakar minyak (BBM) warga, menjaga mobilitas aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat tetap efisien, serta menjadi buffer terhadap potensi penurunan daya beli.

Penulis menilai ini adalah momen di mana langkah yang dulu dianggap beban berubah menjadi saving move yang menyelamatkan posisi.

Koordinasi ASN: Disiplin dan Adaptasi
Di saat yang sama, penulis mencatat bahwa Hadianto menggerakkan lebih dari 11.000 ASN dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) Kota Palu dalam satu orkestrasi disiplin kerja yang ketat.

Dalam terminologi catur, ini adalah piece coordination tingkat tinggi, di mana seluruh "buah" bekerja dalam satu ritme, tidak saling tumpang tindih, dan tetap efektif meski pola kerja bergeser ke WFH/WHA. Produktivitas birokrasi dijaga, pelayanan publik tetap berjalan, dan adaptasi terhadap kebijakan pusat dilakukan tanpa kehilangan kontrol permainan.

Keseimbangan Serangan dan Pertahanan
Penulis menilai keseimbangan antara offense dan defense semakin terlihat jelas. Penanganan banjir dan penguatan sistem drainase adalah benteng pertahanan, sementara pengembangan UMKM dan efisiensi transportasi adalah serangan balik yang menjaga ekonomi tetap hidup.

"Tidak ada langkah yang berdiri sendiri—semuanya terhubung dalam satu desain besar: membangun kota modern yang adaptif terhadap perubahan," tulis penulis.

Endgame: Menuju Checkmate
Kini, permainan memasuki fase endgame. Menurut penulis, posisi Palu semakin solid—struktur kota lebih tertata, ekonomi rakyat bergerak, dan sistem birokrasi semakin disiplin serta adaptif.

Namun penulis mengingatkan bahwa seperti dalam catur, checkmate bukan hasil satu langkah, melainkan akumulasi strategi yang presisi dan konsisten.

"Dengan rangkaian langkah—mulai dari pemulihan pascabencana, pembenahan jalan, jembatan dan drainase, penguatan ekonomi rakyat, keberanian menghadirkan transportasi publik, hingga orkestrasi ASN dalam skema kerja baru—Hadianto Rasyid sedang menempatkan Palu pada jalur kemenangan," tulis penulis.

Penulis menutup bagian pertama serial ini dengan menyebut bahwa Palu sedang bergerak menuju kota modern yang bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga unggul di tengah kompleksitas zaman. (*)

Oleh: Yahdi Basma, SH
Sastrawan Politik Palu